5 Alasan Utama Orang Indonesia Enggan ke Dokter Gigi, Padahal 57 Persen Mengalami Masalah Gigi
Meski lebih dari separuh masyarakat Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut, banyak yang baru datang ke dokter gigi ketika rasa sakit sudah tidak tertahankan.
Fenomena ini menjadi sorotan setelah laporan yang dikutip Kompas menunjukkan sekitar 57 persen masyarakat Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, jumlah yang mencari pengobatan masih relatif rendah. Data Kementerian Kesehatan bahkan menunjukkan hanya sekitar 11 persen penderita yang mencari perawatan medis.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya kesehatan gigi, tetapi juga rendahnya kebiasaan memeriksakan diri ke dokter gigi secara rutin.
Berikut lima alasan utama yang membuat banyak orang enggan datang ke dokter gigi.
1. Takut Sakit Saat Perawatan
Ketakutan terhadap rasa sakit masih menjadi alasan paling umum. Banyak orang membayangkan tindakan seperti pencabutan gigi, pengeboran, atau perawatan saluran akar sebagai prosedur yang menyakitkan. Padahal, teknologi dan metode perawatan gigi saat ini sudah jauh lebih nyaman dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurut PDGI, rasa takut terhadap dokter gigi dapat berkembang dari kecemasan ringan hingga fobia yang membuat seseorang menunda perawatan meski kondisi giginya sudah parah.
2. Biaya Dianggap Mahal
Banyak masyarakat menganggap perawatan gigi membutuhkan biaya besar sehingga memilih menunda pemeriksaan. Persepsi ini membuat sebagian orang hanya datang ketika masalah sudah serius dan membutuhkan tindakan yang justru lebih mahal. Faktor biaya juga disebut sebagai salah satu hambatan utama masyarakat untuk memeriksakan kesehatan gigi secara rutin.
3. Merasa Tidak Perlu Jika Belum Sakit
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa dokter gigi hanya perlu dikunjungi saat sakit gigi muncul. Padahal banyak masalah gigi, seperti gigi berlubang tahap awal atau penyakit gusi, sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Akibatnya, kerusakan baru disadari ketika sudah cukup parah.
4. Akses dan Waktu yang Terbatas
Sebagian masyarakat mengeluhkan sulitnya meluangkan waktu untuk berobat atau menghadapi antrean layanan kesehatan. Selain itu, distribusi dokter gigi yang belum merata membuat akses layanan kesehatan gigi di sejumlah daerah masih menjadi tantangan.
5. Pengobatan Sendiri Dinilai Lebih Praktis
Ketika sakit gigi muncul, banyak orang memilih mengonsumsi obat pereda nyeri atau melakukan pengobatan sendiri daripada memeriksakan diri ke dokter gigi. Padahal obat hanya meredakan gejala sementara dan tidak mengatasi sumber masalahnya. Akibatnya, kerusakan gigi terus berkembang dan berpotensi menimbulkan komplikasi yang lebih serius.
Tingginya angka masalah gigi di Indonesia juga dipengaruhi rendahnya kesadaran menjaga kesehatan mulut. Kementerian Kesehatan mencatat meski sebagian besar masyarakat mengaku menyikat gigi setiap hari, hanya sebagian kecil yang melakukannya dengan teknik yang benar.
Para dokter gigi menyarankan masyarakat melakukan pemeriksaan gigi setiap enam bulan sekali, bahkan ketika tidak merasakan keluhan apa pun. Pemeriksaan rutin dinilai jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan mengobati kerusakan gigi yang sudah terlanjur parah.





